“Design & Technology in Contemporary Furnishing: The Italian and Indonesian Experiences”

“Design & Technology in Contemporary Furnishing: The Italian and Indonesian Experiences”

Kamis, 3 Juni 2010

Grand Hyatt Jakarta, Ballroom C

12

Dibuka oleh H. E. Roberto Palmieri selaku Duta Besar italia untuk Indonesia, seminar ini diikuti oleh para audiens yang terdiri dari arsitek, interior designer, dan product designer. Acara ini sendiri dimulai pada pukul 11.00. Hadir untuk memberikan presentasi adalah Marco Piva dari Italia, Gregorius Supie Yolodi dari Indonesia, dan Avianti Armand sebagai moderator.

34

Diawali dengan presentasi dari Marco Piva. Ia bekerja dalam bidang master planning, arsitektur, desain interior, dan desain produk dibawah naungan Studio Marco Piva. Exciting, fluid, functional adalah tiga kata kunci yang mampu menggambarkan karya-karya Marco Piva. Studio yang dikelola Marco Piva cenderung lebih terlihat seperti laboratorium sains ketimbang studio desain, karena terdapat beberapa karya eksperimental yang terletak pada berbagai skala dalam master planning, bangunan arsitektur, desain interior, dan desain produk.

Marco Piva mengerjakan berbagai skala desain dengan metode baku yang dimulai dengan penelitian dan graphic rendering, melalui prototyping dengan diikuti oleh simulasi yang efisien untuk menghasilkan solusi inovatif dan kontekstual. Seperti diperlihatkan dalam presentasinya, terdapat penemuan material-material baru yang diaplikasikan dalam karya-karyanya seperti pada fiber optic tile, pengolahan kaca sebagai kursi pada Reglax, tactile technology pada Vitrum, dan hal-hal baru pada pencahayaan.

5

Kemudian presentasi kedua dibawakan oleh Gregorius Supie Yolodi, seorang arsitek/desainer asal Indonesia yang memperkenalkan 3 konsep utamanya dalam berkarya yaitu Inspiration, Design, dan Reality. Inspiration dipaparkan sebagai mampu membaca konteks dan terinspirasi dengan apa yang berada di sekeliling kita, Design adalah menjiwai konteks dalam membuat sebuah konsep baru, kemudian Reality adalah mengeksplorasi konteks dan berkompromi dengan berbagai faktor yang akan menjadi batasan-batasan.

Gregorius Supie Yolodi membuka presentasinya dengan kekayaan teknologi yang telah dimiliki Indonesia sejak dulu dicontohkan oleh rumah yang dapat dibongkar pasang untuk pemindahan. Lalu ia bercerita tentang Magno Radio yang dibuat di Kandangan, sebuah desa kecil di Temanggung yang menggunakan material kayu dari pohon dekat rumahnya yang kemudian ia tanam kembali. Kemudian Alvin Tjitrowirjo yang mengolah material rotan sebagai bahan utama pada furniture-nya, memanfaatkan kelenturan material sehingga rotan tidak lagi terlihat kuno.

Gregorius Supie Yolodi menampilkan karya-karya yang ia buat untuk beberapa bangunan di Jakarta, yang ia buat di bengkel yang dikerjakan tangan dengan menggunakan teknologi sederhana. Salah satunya pada Blitz Megaplex Bekasi, Supie menggunakan kaleng krupuk yang diberi pewarnaan putih sebagai elemen pencahayaan, yang kemudian memberi kesan modern. Lalu ia juga menggunakan material bamboo sebagai elemen estetis pada ruangan kantor provider 3, memanfaatkan besaran diameter bamboo yang berbeda-beda kemudian menciptakan irama ketika dilihat dari jarak 5 meter lebih. Selain menggunakan bambu pada luar ruangan, ia juga menggunakan material PVC dengan berbagai ukuran sebagai elemen estetis pada dinding dan langit-langit.

Di akhir presentasi, Gregorius Supie Yolodi menantang para desainer yang hadir untuk mengeksplorasi hal-hal yang ada disekeliling kita dalam menciptakan sesuatu yang baru. Seminar ini ditutup oleh beberapa pertanyaan yang difasilitasi oleh Avianti Armand sebagai moderator. Grazie! (rdt)

 
 

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>