Museums are not warehouses. Museums is simply not a place to store objects, but also a place that contains memories and stories. The KAA museum has a high historical value, also a strategically location. It’s a shame that until this very moment, the KAA museum hasn’t been managed well. Be it the unkempt building, dirty toilets, and the lack of sign systems inside the museum.
Museum bukan gudang. Museum bukan sekedar tempat menyimpan barang. Tapi merupakan tempat yang memiliki kenangan dan cerita. Museum KAA punya nilai historis yang tinggi, juga terletak di tempat yang strategis. Sayang sekali, hingga saat ini Museum KAA tidak dikelola dengan baik. Entah bangunannya yang tidak terawat, toilet yang kotor, dan minimnya penunjuk arah dalam museum tersebut.
That night, in the “Creative City Movement : Workshop at South Braga” the ITB architecture students sat in a room, listening to
Mr. Isman, as head of the KAA museum, and
Mr. Achmad Tardiana (Pak Apep), as Head of the Architecture Study Program speak.
Besides the revitalizing of the KAA museum, they also plan to create a friendly environment for pedestrians. The areas they plan to develop includes the Gedung PD Jasa & Kepariwisataan, Gedung Merdeka, Gedung Asia Afrika, and other buildings in the south part of Braga.
Malam itu, dalam “Creative City Movement : Workshop at South Braga” para mahasiswa arsitektur ITB duduk di dalam ruangan, mendengarkan
Pak Isman selaku ketua museum KAA dan
Pak Achmad Tardiana (Pak Apep) selaku kaprodi arsitektur itb berbicara.
Selain revitalisasi museum KAA, mereka juga ingin menciptakan lingkungan yang ramah bagi pejalan kaki. Daerah yang akan dikembangkan rencananya meliputi Gedung PD Jasa & Kepariwisataan, Gedung Merdeka, Gedung Asia Afrika, dan beberapa gedung lainnya yang terletak di kawasan Braga selatan.



In his presentation, Pak Apep talked about “changing the old city square area into a new destination”. If this program succeeds, it’s going to be interesting to see people once again turning
alun-alun as the main destination to shop or simply walk about on weekends.
On rearranging the public space, Pak Apep explained, that besides being friendly to the pedestrians, the place must reflect on the city’s characteristics.
A couple of areas abroad that is being used as study comparatives, are Xin Tian Di (Shanghai), Quncy Market (Boston), The Rocks (Sydney), and Lan Kwai Fong (HongKong).
We hope that this program will go smoothly because I bet we all can’t wait to enjoy Bandung in a comfortable open space.
Dalam presentasinya, Pak Apep membahas mengenai “menjadikan kawasan pusat kota lama sebagai destinasi baru”. Jika program ini berhasil, pasti akan menarik sekali melihat orang-orang kembali menjadikan alun-alun sebagai tujuan utama untuk berbelanja atau sekedar berjalan-jalan di akhir pekan.
Soal menata kembali ruang publik, Pak Apep mengatakan, disamping ramah bagi pejalan kaki, tempat itu seharusnya mencerminkan karakteristik kota tersebut. Beberapa kawasan di luar negeri yang dijadikan studi banding, seperti daerah Xin Tian Di (Shanghai), Quncy Market (Boston), The Rocks (Sydney), dan Lan Kwai Fong (HongKong).
Semoga saja program ini berjalan dengan lancar, karena tentu kita semua sudah tak sabar ingin menikmati kota Bandung di ruang terbuka yang nyaman.
One Comment
ojan
tidak sabar menunggu hasilnya..