Bandung Has Affairs!

[en]“We love Bandung but Bandung loves affairs“, a yellow tagline with a black background.

The color used to write this text is very contrast and striking but when read, an ambiguous meaning is found instead, implying a parody, contradicting its color. It could be—for Indonesia’s popular culture—that the tagline is implying on the meaning of ‘cheating’, as if in the context, “the one we love turns out to be a cheater..” . The real meaning could be hard to catch at first glance because of this reasoning. Let’s try to understand the real meaning of this tagline, because by doing this, we might be able to understand the relevance on the concept of Bandung Affairs.[/en]

[id]“We love Bandung but Bandung loves affairs” sebuah tagline, berwarna kuning dan berlatar belakang hitam.

Warna yang menuliskan teks ini begitu kontras, mencolok, namun saat teks ini dibaca justru sebuah ambigu yang muncul, dan ambigu ini menyiratkan sebuah parodi. Mungkin bagi budaya populer indonesia dari tagline tersebut seolah mengantarkan pada pemaknaan selingkuh, seolah “yang kita cintai ternyata berselingkuh..“. Namun pemaknaan sulit didapat dari suatu hal yang dibaca sekilas- pandangan pertama. Maka mari memaknai kedalaman dari tagline ini, karena pemaknaan ini akan mengantarkan pada relevansi akan gagasan mengenai Bandung Affairs.[/id]

www.bandungaffairs.com

bdgaffairs-1

[en]Bandung Affairs is a realization from Kukuh Rizal Arfianto’s idea, a Ceramic Craft student from ITB Fine Arts and Design, 2006. This idea was introduced to the public in the WorkPOD Coworking Space event. It’s hard to specifically categorize Bandung Affairs, because Bandung Affairs isn’t a form of community or a movement. It can be realized as a form of abstract, a possibility that continues its search of a form. This statement was mentioned in Bandung Affairs presentation called Bandung Has Affairs! Web Launching, which is part of the Helarfest 2009 chain of events.

In that presentation, Kukuh presented an argumentation on the condition of Bandung’s society. One of the main complaint is about the ‘stuck’ position in the social condition. A dead end, as if effortless, a common condition felt amidst the daily urban space routinity.[/en]

[id]Bandung Affairs merupakan realisasi gagasan Kukuh Rizal Arfianto, mahasiswa Kriya Keramik FSRD ITB angkatan 2006. Gagasan ini pada hari sabtu tanggal 27 November 2009 diperkenalkan kepada publik di WorkPOD Coworking Space. Sulit untuk mengkategorikan Bandung Affairs dalam suatu bentuk, karena Bandung Affairs bukan merupakan komunitas dan sulit dikategorikan sebagai sebuah gerakan. Bandung Affairs dapat diwakilkan sebagai sebuah abstraksi, sebuah kemungkinan-kemungkinan yang terus mencari bentuk. Hal tersebut disebutkan dalam presentasi Bandung Affairs yang bertajuk Bandung Has Affairs! Web Launching yang merupakan salah satu rangkaian acara Helarfest 2009.

Dalam presentasi tersebut Kukuh, mengajukan argumentasi akan kondisi masyarakat Bandung. Satu titik keresahan yang dibawanya adalah posisi stuck dalam sosial. Kemandegan yang seolah tanpa effort, suatu bentuk yang umum dirasakan dalam keseharian rutinitas ruang urban.[/id]

bdgaffairs-2

[en]To remind us of Bandung Affairs tagline that uses the word ‘we’, Kukuh applied it in his presentation, using the word ‘we’ as the substitute for the first person mentioning. Deliberately or not, this is probably what Kukuh aims to project about Bandung Affairs. Anyone who hears, sees, and talks about Bandung Affairs, is a Bandung Affairs member. This is the element that forms Bandung Affairs, as seen in its website www.bandungaffairs.com. In it are lots of people who are invited to contribute photos, poetries, diary entries, or just about anything. This is a summarization as a form of wanting to share discussions, inviting peopleto use the word ‘we’ instead of ‘our’ that is usually identified with the idea of “segmentation”.

This ‘us’-ness has created a unlimited space, resolving in Bandung Affairs creating bits of knowledge disciplines. These bits are ‘us’ who are talking to eadh other.

The majority of Bandung Affairs founders are students from the Fine Arts, so it’s no surprise that the main points are shown through visual culture forms. In order to expand this issue, Bandung Affairs has created a division that aims to focus on visual culture called Basement (Bandung Affairs Street Art Movement). In this division, Bandung Affairs has specifically created a guerrilla movement to create visual forms on the streets of Bandung, and play with the possibilities that can be formed from an image projection form.[/en]

[id]Dalam presentasi tersebut Kukuh selalu menggunakan kata ‘kita’ sebagai kata ganti orang pertama, hal ini mengingatkan akan tagline Bandung Affairs yang menggunakan kata ‘we‘. Dan ini pun yang mungkin secara sadar atau tidak sadar ingin digambarkan oleh Kukuh mengenai Bandung Affairs. Siapapun yang mendengarkan, yang melihat, dan membicarakan Bandung Affairs adalah anggota dari Bandung Affairs. Hal tersebut adalah unsur yang membentuk Bandung Affairs, karena dalam situsnya www.bandungaffairs.com, dapat dilihat isinya adalah orang-orang yang diajak untuk mengkontribusikan foto, sajak, diary, atau apapun. Hal tersebut dirangkumkan sebagai kesadaran ingin membagi pembicaraan, yang mengajak dengan kata ‘kita’ bukan kata ‘kami’ yang cenderung segmented.

Ke-’kita’-an ini membangun sebuah ruang tak terbatas, hal ini menjadikan Bandung Affairs menghasilkan irisan – irisan disiplin ilmu. Irisan ini adalah ‘kita’ yang saling berbicara.

Mayoritas pembangun Bandung Affairs adalah mahasiswa dari keilmuan seni rupa, maka tak heran titik kuat yang muncul adalah bentuk-bentuk visual culture. Dalam mengembangkan issue ini Bandung Affairs memunculkan satu divisi yang memfokuskan pada visual culture yang diberi nama Basement (Bandung Affairs Street Art Movement). Dalam divisi ini secara khusus Bandung Affairs bergerilya menciptakan bentuk-bentuk visual di jalanan, dan bermain dengan segala kemungkinan yang bisa dibentuk dari sebuah citraan bentuk.[/id]

bdgaffairs-3

bdgaffairs-4

[en]“Because the city is the ‘meeting point’ where all problems dwell, and that becomes our ‘playground’..” was mention by Kukuh. These words are the main point that can define Bandung Affairs abstraction. The city, sociaty, trends, and the building elements activities are the usual things people living in urban spaces go through daily. This is what Bandung Affairs then turn into their playground. As all playgrounds are, they then treated the urban problems as something fun. But being fun doesn’t mean reducing the critical level, the theme discussed is still sharp, but in a more relaxed, cool and imaginative context. Maybe that’s the ‘today’ strategy, a strategy that’s placed in the midst of the urban social space, where urban spaces in Bandung is filled with all kinds of commotions that always seems to be busy and in a hurrry. But then ‘we’ come in, and ‘we’ are the people who want and will keep talking about it.[/en]

[id]“Karena kota tempat berkumpulnya semua masalah, dan itu menjadi ruang bermain kami…” diucapkan oleh Kukuh. Kata-kata ini dapat menjadi garis besar yang mampu mengurai abstraksi mengenai Bandung Affairs. Kota, masyarakat, tren dan kesibukan elemen-elemen pembangun adalah jalur yang biasa dilewati seseorang yang tinggal di ruang urban. Jalur yang dilewati ini kemudian dijadikan sebuah wahana bagi Bandung Affairs. Layaknya sebuah wahana maka Bandung Affairs menanggapi persoalan urban sebagai suatu hal yang menyenangkan. Menyenangkan bukan berarti mereduksi kekritisan, konteks yang dibicarakan tetaplah tajam namun dengan wadah yang lebih santai, cool dan imajinatif. Mungkin itulah strategi ‘hari ini’, strategi yang dimasukan ke tengah medan sosial ruang urban. Dimana ruang urban di kota Bandung ini penuh dengan hiruk pikuk yang seolah-olah tampak sibuk dan tergesa-gesa. Namun ‘kita’ muncul, ‘kita’ adalah orang yang ingin dan akan terus membicarakannya.[/id]

We Love Bandung, but Bandung Loves Affairs“.

bdgaffairs-5

www.bandungaffairs.com

 
 

3 Comments

  • Posted April 6, 2010 at 8:45 am | Permalink

    One of my friends already told me about this place and I do not regret that I found this article.

  • Posted December 14, 2009 at 1:10 am | Permalink

    1st comment..
    tampak oke acaranya.. mahasiswa emng berbakat bwt bikin yang oke oke

  • Posted December 12, 2009 at 10:20 pm | Permalink

    kewl! ditunggu kelanjutan pergerakannnya!

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>