[en]Dago Plaza, Monday night, November 9, 2009. That night wasn’t only filled with the usual youth hanging out, drinking and stuff, but there was another source of crowd coming from the Bandung Public Furniture (BPF), part of the Helarfest 2009 event, has officially been opened. The opening ceremony was attended by Mr. Ridwan Kamil, president of Helarfest, and a representation from the Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat (West Java Culture and Tourism Official). The event was heated up by live performances from LOUD and Tabrak Lari Blues.[/en]
[id]Dago Plaza, Senin malam 9 November 2009. Malam itu, bukan saja hanya dipenuhi anak-anak muda yang seperti biasa nongkrong bergerombol sambil minum-minum atau apapun, tetapi ada keramaian lain di situ. Bandung Public Furniture (BPF), bagian dari rangkaian Helarfest 2009 resmi dibuka. Pembukaan dihadiri oleh Bpk. Ridwan Kamil, selaku ketua Helar fest, dan perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat . Acara juga dihangatkan oleh live performance band LOUD dan Tabrak Lari Blues.[/id]
[en]BPF itself is a venue for designers to design public furnitures that are then put on display, hoping to create a fresh style in public furniture design that hasn’t got much attention yet. Based on the title and concept, these designs are then displayed to the public to be used as a public utility.
In this event, the majority of designers participating made sitting facilities. These seats are arranged and displayed in such a way, creating a comfortable atmosphere for the users in doing various kinds of interaction. For instance, Meicy Sitorus, a Product Design alumni from FSRD ITB, made a seat from a combination of rubber tire waste and nets. Visually it looks really simple, but the seat itself is very comfortable and efective as an outdoor public furniture.[/en]
[id]BPF sendiri merupakan sebuah ajang bagi para desainer untuk merancang sarana publik yang lalu dieksibisi dan diharapkan dapat memberikan warna baru dalam desain sarana publik, yang selama ini dirasa masih kurang mendapat perhatian. Sesuai dengan judul dan konsepnya, maka desain-desain tersebut dihadirkan kepada publik, dan dapat dipergunakan sebagai sarana umum.
Pada BPF tersebut mayoritas desainer berpartisipasi membuat sarana duduk. Sarana duduk tersebut diatur dan didisplay sedemikian rupa agar lebih memungkinkan publik merasa nyaman melakukan berbagai macam interaksi. Contohnya adalah Meicy Sitorus, alumni Desain Produk FSRD ITB ini membuat sebuah kursi dari material ban karet bekas dan jaring. Secara visual sangat sederhana, akan tetapi kursi tersebut sangat nyaman dan efektif sebagai sarana umum outdoor.[/id]
[en]The most eyecatching creation is a design by Raditya Ardiyanto Tepur. He has created a playing facility, engklek (hopscotch). The visitor of Dago Plaza can be seen playing, hopping from square to square. Interestingly enough, the engklek was used as the official symbol for the event, that was then hopped on by the representation from the Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat.
This event will be held until December 4, moving from place to place such as Cihampelas Walk and Paris Van Java. On November 28, BPF will collaborate with a fashion show from Kriya Textile, FSRD ITB. The closing ceremony will be held at Galeri Soemardja, ITB.[/en]
[id]Yang menarik perhatian adalah karya Raditya Ardityanto Tepur. Ia membuat sarana bermain berupa engklek. Para pengunjung Dago Plaza pun tampak terlihat iseng bermain meloncati kotak demi kotak. Dan yang unik ialah, simbolisasi peresmian acara ditandai dengan diloncatinya engklek tersebut oleh perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat.
Pameran akan berlangsung hingga 4 Desember, berpindah-pindah sesuai tempat yang telah ditentukan seperti Cihampelas Walk dan Paris Van Java. Pada tanggal 28 November, BPF ini akan berkolaborasi dengan fashion show dari Kriya Tekstil FSRD ITB. Penutupan pameran pun akan dilangsungkan di Galeri Soemardja, ITB.[/id]









3 Comments
foldadmin
@fitorio : Thanks untuk masukkannya.
@mindo christian tambunan : kalau untuk tahun ini, sudah tidak bisa. Tahun depan akan diadakan kembali. Tunggu saja informasi selanjutnya di Fold magazine. Thanks.
mindo christian tambunan
klo mw gabung gmn y crany???
fitorio
kalo boleh usul. mending banyakin gambar karyanya daripada tulisannya.