Penca on the Street

[en]Penca on the Street is one of the events included in the Helar Festival 2009. Held on Saturday, October 24, 2009 at Taman Cikapayang, Jl. Ir. Juanda (Dago), that’s usually crowded on a Saturday Night, has succeeded in gaining a large mass of onlookers that were mostly interested in the Sundanese  traditional arts itself, or just happened to be passerbys who took interest while walking on the “Jalan Dago”. The event started around 19.30 pm with Edi Brokoli as the MC, using Sundanese language all the while.[/en]

[id]Penca on the Street adalah salah satu acara yang termasuk dalam rangkaian Helar Festival 2009. Diadakan pada Sabtu, 24 Oktober 2009 dan bertempat di Taman Cikapayang, Jl. Ir. Juanda (Dago) yang selalu ramai pada malam Minggu, acara ini berhasil menyedot cukup banyak penonton yang memang tertarik dengan acara kesenian tradisional Sunda, maupun yang sedang melintas di “Jalan Dago”. Acara ini dimulai sekitar pukul 19.30 WIB dengan Edi Brokoli sebagai MC dan menggunakan bahasa Sunda selama acara berlangsung.[/id]

[en]The main attraction of the event – as the theme suggests—is the Gendang Penca, a traditional artistic performance that combines the art of martial arts and music, performed by the Pencak Silat Panglipur Tunas Jaya. It begins with the children performers, saluting the audience, with their hands ditangkupkan in front of their chest and a nod of the head. The performers then started their act, by showing off their pencak silat skills, with fluid movements in sync with the drumming of the instruments, and was ended once again by another saluting gesture to the audience.[/en]

[id]Suguhan utama dari acara ini—sebagaimana judul acaranya—adalah kesenian Gendang Penca, sebuah kesenian tradisional yang menggabungkan seni olahraga beladiri dengan seni musik yang dibawakan oleh Pencak Silat Panglipur Tunas Jaya. Awalnya para performer yang terdiri dari anak-anak ini melakukan gerakan menghormat pada penonton dengan tangan ditangkupkan di depan dada dan menganggukkan kepala. Setelah itu, para performer menunjukkan kebolehan pencak silat mereka dengan gerakan yang selaras dengan tabuhan alat musik dan diakhiri dengan gerakan menghormat kembali kepada para penonton.[/id]

penca-1

penca-2

[en]Besides the Penca, there is another performance that’s interesting, which is a performance of the intrument karinding played by the Karinding Attack group, accompanied by gendang percussions Karinding is a traditional music instrument, made with a bamboo stick with a hole in the middle, played by blowing and tapping the end of the instrument, producing a unique sound. Edi Brokoli, Man Jasad, and others joined in this well anticipated performances.[/en]

[id]Selain Penca, penampilan lainnya yang tidak kalah menarik adalah permainan alat musik karinding oleh kelompok Karinding Attack diiringi tabuhan gendang. Karinding adalah alat musik tradisional yang sederhana, terbuat dari batang bambu yang tengahnya dilubangi dan dimainkan dengan cara ditiup serta ujungnya ditepuk dengan jari sehingga menghasilkan bunyi yang unik. Edi Brokoli, Man Jasad, dkk turut serta ambil bagian dalam performance yang mendapatkan sambutan meriah ini.[/id]

penca-3

penca-4

[en]Penca on the Street went on with excitement and was  far from boring. The MC was very communicatif with the audience, and held some quizzes with prizes for the audience, one of it included translating Indonesian language texts into  refined Sundanese, a feat that turned out to be hard even for Sundanese people themselves. This event was interesting, in terms of preserving traditional culture that’s nearly forgotton these days and pushed aside by the ever growing modern culture.[/en]

[id]Penca on the Street berlangsung seru dan jauh dari kesan membosankan. MC sangat komunikatif dengan penonton dan melempar beberapa kuis berhadiah merchandise HelarFest, diantaranya kuis mengartikan teks bahasa Indonesia ke dalam bahasa Sunda halus yang ternyata cukup sulit bahkan bagi orang Sunda sekalipun. Acara ini sangat menarik untuk melestarikan kebudayaan tradisional yang kini nyaris terlupakan dan tergeser oleh budaya-budaya modern.[/id]

 
 

One Comment

  • Posted November 14, 2009 at 2:04 pm | Permalink

    from local culture to interlcal.
    good thing, because karinding ever lose in thuosand years

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>