[en]These days our generation of youth are rich with ideas and creative thoughts, but on the contrary, they also produce a large amount of waste because of their equally large consumption of objects. Inspired from this problem, a group of young designers then decided to run a campaign on this global issue by creating products out of trash.[/en]
[id]Anak muda memiliki ide dan pemikiran yang sangat kreatif, namun anak muda pun cukup menghasilkan sampah yang cukup banyak, sebab mereka mengkonsumsi benda/barang yang cukup besar.. Berangkat dari masalah tersebut, sekelompok pemuda mengkampanyekan issue yang sudah global ini dengan membuat produk-produk yang memanfaatkan sampah.[/id]
[en]On the 28 and 29 of November 2009, more then 30 young designers, still active students form Institute Technology of Bandung and Pelita Harapan University of Jakarta contributed ideas for the Youth Waste event that organized by INDDES ITB, designing house good products out of waste such as glass, paper, plastic bottles, electronic parts, etc.[/en]
[id]Bandung 28.29 november 2009, Lebih dari 30 desainer muda yang masih berstatus mahasiswa yang berasal dari Institut Teknologi Bandung dan Universitas Pelita Harapan Jakarta turut serta menyumbangkan idenya diacara Youth Waste, yang diselenggarakan oleh INDDES ITB, dengan memanfaatkan limbah seperti kaca, kertas, botol plastic, elektronik, dll menjadi house goods.[/id]
[en]All the products displayed has successfully attract the visitors attention. Such as the Recyclamp by Aulia Amanda and Annisa Fardan Nabila. By throwing out the broken filament, cleaning the insides of the bulb and finally utilizing the bulbs glass as spice containers. There’s also the Saw it Dust by Ivan Christianto. After observing the amount of wooden container waste scattered around Jakarta, Ivan then tried to explore the full potential of the material, resulting in designing a stool out of wooden modular (composing of the used containers) that are stacked and bind together with wooden glue and topping it with a hand-sewn seating pillow.
Besides exhibiting products, Youth Waste has also held a talk show, featuring guest speakers such as Dwinita Larasati (academic, sustainable design expert), Ridwan Kamil (architect), Yusing (green design activist), Sano (environmental activist), and Shana Fatina Sukarsono. The discussion was about how it’s impossible for trash to disappear in a short amount of time, and how we can help by reusing and reducing it. The Up cycle and Down cycle that’s been talked about these days was the main attraction of the speakers. The conclusion was that design is the only solution to this problem, being that design is the symbol of civilization. Besides this session, Yusing also showcased pictures of his house that utilizes wooden waste as his wall mosaic.[/en]
[id]Semua produk yang dipamerkan menarik perhatian pengunjung. Seperti Recyclamp yang dibuat oleh Aulia Amanda dan Annisa Fardan Nabila. Mereka membuang filamen yang putus, membersihkan bagian dalam lampu dan hanya memanfaatkan kaca lampunya menjadi tempat bumbu. Ada juga Saw it dust dari Ivan Christianto. Dia melihat banyaknya peti kemas yang berserakan di sekitar Jakarta. Kemudian mencoba eksplor bahan tersebut sebelum akhirnya menjadi stool yang terdiri dari modul kayu yang direkat menggunakan lem, dan diatasnya menggunakan jok kursi yang dijahitnya sendiri.
Selain pameran produk, Youth Waste menggelar talk show yang mengundang berbagai pembicara seperti Dwinita Larasati (akademisi, ahli sustainble design), Ridwan Kamil (arsitek), Yusing (aktivis green design), Sano (aktivis lingkungan), Shana Fatina Sukarsono. Mereka membahas bahwa sampah tidak mungkin bisa hilang dalam waktu cepat, hal yang sebaiknya dilakukan kita yakni dengan memanfaatkan atau menguranginya. Up cycle dan Down cycle yang akhir-akhir ini sering dibicarakan menjadi perhatian pembicara-pembicara ini. Pada akhirnya desain merupakan jawaban yang tepat untuk menjawab permasalahan ini sebab desain merupakan simbol peradaban. Selain itu juga Yusing memperlihatkan gambar-gambar rumahnya yang menggunakan dan memanfaatkan limbah kayu bekas untuk dijadikan mozaik dinding dirumahnya.[/id]
[en]What started as a small talk, then evolved as a breakthrough youth movement from our generation. Such an interesting feat to be held annually.[/en]
[id]Berawal dari wacana dan membuat gebrakan yang cukup baik dari pemuda. Sangat menarik, dan seharusnya dapat terus dilanjutkan.[/id]











4 Comments
radityaardianto
setuju. katalog!
nindya
iya bner, katalog! ada ga sih katalognya?
FahmiOtis
nice event.
sukses selalu!!
menthol
ahey..
mantep ey!.. . . jangan lupa katalog nya
semoga bisa terus digarap ide youthwastenya. . .ayo bi…dit, can, nda. . .semua!
ganbatte kudasai!
SEMANGAT!
spirit!